Rabu, 04 Oktober 2017

Soedirman lahir dari pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem saat pasangan ini tinggal di rumah saudari Siyem yang bernama Tarsem di Rembang, Bodas Karangjati, Purbalingga, Hindia Belanda. Tarsem sendiri bersuamikan seorang camat bernama Raden Cokrosunaryo. Menurut catatan keluarga, Soedirman –dinamai oleh pamannya –lahir pada Minggu pon di bulan Maulud dalam penanggalan Jawa; pemerintah Indonesia kemudian menetapkan 24 Januari 1916 sebagai hari ulang tahun Soedirman.


Jenderal Besar Raden Soedirman (EYD: Sudirman; lahir 24 Januari 1916 – meninggal 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Menjadi panglima besar Tentara Nasional Indonesia pertama, ia secara luas terus dihormati di Indonesia. Terlahir dari pasangan rakyat biasa di Purbalingga, Hindia Belanda, Soedirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi.

Setelah keluarganya pindah ke Cilacap pada tahun 1916, Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin; ia sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti program kepanduan yang dijalankan oleh organisasi Islam Muhammadiyah. Saat di sekolah menengah, Soedirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi, dan dihormati oleh masyarakat karena ketaatannya pada Islam.


Setelah berhenti kuliah keguruan, pada 1936 ia mulai bekerja sebagai seorang guru, dan kemudian menjadi kepala sekolah, di sekolah dasar Muhammadiyah; ia juga aktif dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya dan menjadi pemimpin Kelompok Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1937.

Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Soedirman tetap mengajar. Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Soedirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan pemberontakan, namun kemudian diasingkan ke Bogor.


Karena kondisi keuangan Cokrosunaryo yang lebih baik, ia mengadopsi Soedirman dan memberinya gelar Raden, gelar kebangsawanan pada suku Jawa. Soedirman tidak diberitahu bahwa Cokrosunaryo bukanlah ayah kandungnya sampai ia berusia 18 tahun.

Setelah Cokrosunaryo pensiun sebagai camat pada akhir 1916, Soedirman ikut dengan keluarganya ke Manggisan, Cilacap. Di tempat inilah ia tumbuh besar. Di Cilacap, Karsid dan Siyem memiliki seorang putra lain bernama Muhammad Samingan. Karsid meninggal dunia saat Soedirman berusia enam tahun, dan Siyem menitipkan kedua putranya pada saudara iparnya dan kembali ke kampung halamannya di Parakan Onje, Ajibarang.


Biodata Jendral Sudirman :

1. Nama   :  Soedirman
2. Panggilan  paling dikenal : Pak Dirman
3. Gelar Pahlawan Nasional Indonesia
4. Tempat Lahir :  Desa Bodas Karanjati, Purbalingga, Jawa Tengah
5. Tanggal lahir  : Senin, 24 Januari 1916
6. Status : Warga Negara  :   Indonesia
7. Pendidikan     Sekolah Taman Siswa
    HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo (tidak tamat)
    Pendidikan Militer PETA, Bpgor
8. Karir    :
   -  Guru di His Muhammadiyah, Cilacap
   -  Komandan Batalyon, Kroya
   -  Panglima Divisi V Banyumas, dengan pangkat Kolonel
   -  Panglima Besar TKR/TNI, dengan pangkat Jenderal
9. Penghargaan     Jendral Besar Anumerta Bintang Lima (1997)
   - Jenderal Besar Anumerta Bintang Sakti
   - Jenderal Besar Anumerta Bintang Gerilya
   - Jenderal Besar Anumerta Bintang Mahaputra Adipurna
   - Jenderal Besar Anumerta Mahaputra Pratama
   - Jenderal Besar Anumerta Bintang Republik Indonesia Adipradana
   - Pahlawan Nasional Indonesia


Soedirman dibesarkan dengan cerita-cerita kepahlawanan, juga diajarkan etika dan tata krama priyayi,serta etos kerja dan kesederhanaan wong cilik, atau rakyat jelata. Untuk pendidikan agama, ia dan adiknya mempelajari Islam di bawah bimbingan Kyai Haji Qahar; Soedirman adalah anak yang taat agama dan selalu shalat tepat waktu.

Ia dipercaya untuk mengumandangkan adzan dan iqamat. Saat berusia tujuh tahun, Soedirman terdaftar di sekolah pribumi (hollandsch inlandsche school). Meskipun hidup berkecukupan, keluarga Soedirman bukanlah keluarga kaya. Selama menjabat sebagai camat, Cokrosunaryo tidak mengumpulkan banyak kekayaan, dan di Cilacap ia bekerja sebagai penyalur mesin jahit Singer.

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Soedirman melarikan diri dari pusat penahanan, kemudian pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Ia ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas, yang dilakukannya setelah mendirikan divisi lokal Badan Keamanan Rakyat. Pasukannya lalu dijadikan bagian dari Divisi V pada 20 Oktober oleh panglima sementara Oerip Soemohardjo, dan Soedirman bertanggung jawab atas divisi tersebut.



Pada tanggal 12 November 1945, dalam sebuah pemilihan untuk menentukan panglima besar TKR di Yogyakarta, Soedirman terpilih menjadi panglima besar, sedangkan Oerip, yang telah aktif di militer sebelum Soedirman lahir, menjadi kepala staff. Sembari menunggu pengangkatan, Soedirman memerintahkan serangan terhadap pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa.

Pertempuran ini dan penarikan diri tentara Inggris menyebabkan semakin kuatnya dukungan rakyat terhadap Soedirman, dan ia akhirnya diangkat sebagai panglima besar pada tanggal 18 Desember. Selama tiga tahun berikutnya, Soedirman menjadi saksi kegagalan negosiasi dengan tentara kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, yang pertama adalah Perjanjian Linggarjati –yang turut disusun oleh Soedirman – dan kemudian Perjanjian Renville –yang menyebabkan Indonesia harus mengembalikan wilayah yang diambilnya dalam Agresi Militer I kepada Belanda dan penarikan 35.000 tentara Indonesia.

Ia juga menghadapi pemberontakan dari dalam, termasuk upaya kudeta pada 1948. Ia kemudian menyalahkan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai penyebab penyakit tuberkulosis-nya; karena infeksi tersebut, paru-paru kanannya dikempeskan pada bulan November 1948.


Soedirman dan beberapa rekannya sesama tentara PETA mendirikan cabang BKR di Banyumas pada akhir Agustus, setelah sebelumnya singgah di Kroya dan mengetahui bahwa batalion di sana telah dibubarkan. Dalam pertemuannya dengan komandan wilayah Jepang, Saburo Tamura, dan Residen Banyumas, Iwashige, Soedirman dan Iskak Cokroadisuryo memaksa Jepang untuk menyerahkan diri dan memberikan senjata mereka, sementara kerumunan warga Indonesia bersenjata mengepung kamp Jepang.

Sebagian besar senjata ini kemudian digunakan oleh unit BKR Soedirman, menjadikan unitnya sebagai salah satu unit dengan senjata terbaik di Indonesia; sisa senjata juga dibagikan kepada batalion lain.

Pada tanggal 19 Desember 1948, beberapa hari setelah Soedirman keluar dari rumah sakit, Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Di saat pemimpin-pemimpin politik berlindung di kraton sultan, Soedirman, beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama tujuh bulan.

Awalnya mereka diikuti oleh pasukan Belanda, tetapi Soedirman dan pasukannya berhasil kabur dan mendirikan markas sementara di Sobo, di dekat Gunung Lawu. Dari tempat ini, ia mampu mengomandoi kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto.

Ketika Belanda mulai menarik diri, Soedirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949. Meskipun ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, ia dilarang oleh Presiden Soekarno. Penyakit TBC yang diidapnya kambuh; ia pensiun dan pindah ke Magelang. Soedirman wafat kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.


Kematian Soedirman menjadi duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Bendera setengah tiang dikibarkan dan ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan prosesi upacara pemakaman. Soedirman terus dihormati oleh rakyat Indonesia.

Perlawanan gerilyanya ditetapkan sebagai sarana pengembangan esprit de corps bagi tentara Indonesia, dan rute gerilya sepanjang 100-kilometer (62 mi) yang ditempuhnya harus diikuti oleh taruna Indonesia sebelum lulus dari Akademi Militer. Soedirman ditampilkan dalam uang kertas rupiah keluaran 1968, dan namanya diabadikan menjadi nama sejumlah jalan, universitas, museum, dan monumen. Pada tanggal 10 Desember 1964, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Dalam sejarah TNI ( tentara nasional Indonesia ) Jenderal Sudirman mungkin jenderal dan panglima paling kurus badannya, tapi wibawanya sangat tinggi. Itulah darah tentara nasional Indonesia, dari rakyat oleh rakyat untuk  rakyat.

5 oktober adalah hari tentara nasional Indonesia, hari angkatan bersenjata republik Indonesia. Pembela tanah air, penjaga NKRI. Bersama rakyat, ulama TNI unjung tombak pertahanan negara republik Indonesia. Selamat hari TNI 5 oktober 2017 ke 72. Jayalah di darat, laut dan Udara. (RR)




Selasa, 26 September 2017

Sekedar renungan buat para suami, entah ada yang punya pikiran seperti ini apa tidak, berikut ada sebuah cerita yang dapat dipetik hikmahnya. Percakapa antara seorang suami dan seorang Syech.

ILustrasi

Seorang suami mengadukan apa yang ia rasakan kepada seorang Syekh. Dia berkata:

Ketika aku mengagumi calon istriku seolah-olah dalam pandanganku Allah tidak menciptakan perempuan yang lebih cantik darinya di dunia ini...

Ketika aku sudah meminangnya, aku melihat banyak perempuan seperti dia...

Ketika aku sudah menikahinya aku lihat banyak perempuan yang jauh lebih cantik dari dirinya...


Ketika sudah berlalu beberapa tahun pernikahan kami, aku melihat seluruh perempuan lebih manis dari pada istriku.”


Syekh berkata:  ﺃﻓﺄﺧﺒﺮﻙ ﺑﻤﺎ ﻫﻮ ﺃﺩﻫﻰ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻭﺃﻣﺮّ!؟

“Apakah engkau tahu, ada yang jauh lebih parah daripada yang engkau alami saat ini!?”

Laki-laki penanya: “Iya, mau.”

Syekh: “Sekalipun engkau mengawini seluruh perempuan yang ada di dunia ini, pasti anjing-anjing yang berkeliaran di jalanan itu lebih cantik dalam pandanganmu dari pada wanita manapun.”

Laki-laki penanya itu tersenyum masam, lalu ia berujar: “Kenapa tuan Syekh berkata demikian?”

Syekh itu melanjutkan: ليس الأمر في عرسك ، وإنما هو في قلبك الطامع وبصرك الزائغ ، ولا يملأ عين ابن آدم الا التراب

Masalah sesungguhnya bukan terletak pada istrimu, tapi terletak pada hati rakusmu dan mata keranjangmu. Mata manusia tidak akan pernah puas, kecuali jika sudah tertutup tanah kuburan.”

Rasulullah bersabda:
لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ ثَانِيًا، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Andaikan anak Adam itu memiliki lembah penuh berisi emas pasti ia akan menginkan lembah kedua, dan tidak akan ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali tanah. Dan Allah akan menerima taubat siapa yang mau bertaubat”.

Lalu Syekh itu bertanya, “Apakah engkau ingin istrimu kembali seperti dulu, menjadi wanita terindah di dunia ini?”

“Iya Syekh,” jawab lelaki itu dengan perasaan tak menentu.

Syekh: فاغضض ﺑﺼﺮﻙ ، فإن من ارتضى بحلاله رزق الكمال فيه

Pejamkanlah matamu dari hal-hal yang haram… Ketahuilah, orang yang merasa cukup dengan suatu yang halal, maka dia akan diberi kenikmatan yang sempurna di dalam barang halal tersebut."

Semoga bermanfaat
Salah satu makhluk hidup yang dipandang kotor dan menimbulkan berbagai macam penyakit adalah lalat. Memang hewan yang diciptakan oleh Allah Ta’ala ini seringkali hinggap di tempat yang jorok dan berkuman. Meskipun begitu, lalat termasuk hewan yang disebutkan dalam Al Qur’an maupun hadist.

Lantas adakah manfaat yang sangat besar hingga lalat disebut dalam kitab suci tersebut? Atau adakah hikmah di balik penciptaannya?



Ketahuilah bahwa lalat atau dalam bahasa arab disebut “Adz Dzubab” disebutkan dalam Al Qur’an dan salah satunya terdapat dalam surat Al Hajj ayat 73.

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah perumpaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun. Walaupun mereka bersatu untuk membuatnya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dri mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pula) yang disembah.” (QS Al Hajj 73)

Jika ditelaah dalam ayat tersebut Allah menyeru manusia untuk bertauhid dan meninggalkan kesyirikan. Allah sengaja memperlihatkan salah satu makhluknya dimana berhala maupun penyembahnya tak mampu untuk membuatnya.

Selain itu Allah juga membuat perumpamaan tersebut untuk menghinakan berhala dan penyembahnya dimana lalat lebih kuat untuk mempertahankan sesuatu yang telah ia ambil sehingga kaum penyembah berhala dan berhala itu sendiri tak mampu mengambilnya kembali.

“Dibuat permisalan dengan seekor lalat itu merupakan sesuatu yang baik dalam bahasa Arab, karena dapat lebih mendekatkan kepada pemahaman.” Ucap Syaikh Abu Bakar Al Jaza’iri.

Meskipun begitu, Allah tidaklah asal-asalan dalam membuat perumpamaan dan pasti ada nilai lebih yang membuat hewan jorok tersebut tersebut dalam Al Qur’an. Telah banyak ayat yang mengisahkan bagaimana Allah bersumpah atas nama ciptaanNya seperti matahari dan bulan sebagai bentuk keagungan Allah. Dan memang ciptaan Allah tersebut memiliki dampak yang sangat besar bagi kehidupan.

Lalat menjadi sangat unik terutama ketika mendapati hewan tersebut ada dalam hadist Rasulullah. Salah satu keunikannya adalah dua sisi yang berbeda dimana di bagian yang satu ia memiliki racun, namun di bagian yang lain justru terdapat sebuah penawar akan racun tersebut.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jika lalat terjatuh di minuman salah seorang di antara kamu, maka benamkanlah dia, kemudian lepaskanlah (buanglah), karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap yang lainnya terdapat obat (penawar).” (HR Bukhari)

Bagi kaum yang mementingkan akalnya, hadist yang disampaikan oleh Rasulullah tersebut sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seekor lalat yang kotor harus dibenamkan dalam minuman, bukankah bertambah jijik?

Namun kenyataannya hadist tersebut termasuk hadist shahih sehingga tidak ada alasan untuk menolaknya. Hal ini karena segala ucapan Rasulullah sesungguhnya bersandar pada wahyu Allah Ta’ala.

Seorang yang beriman harus yakin dengan seyakin-yakinnya jika telah mendapati hadist yang telah shahih, meski belum jelas apakah hal tersebut memiliki hikmah atau tidak.

Bagaimanakah Pandangan Medis Tentang Lalat?
Kini seiring berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan, benarlah sabda Rasulullah tentang lalat. Berbagai fakta telah membuktikan bahwa lalat menjadi obat untuk suatu penyakit.

Prof.DR. Amin Ridha menyebutkan bahwa pada 30 tahun pertama abad ke-20, kedokteran sudah menggunakan lalat untuk mengobati penyakit borok menahun dan paru. Selain itu setelah diteliti dengan cukup lama ternyata lalat memiliki virus untuk membunuh kuman. Sehingga ketika ia membawa kuman dari tempat yang kumuh, hewan kecil ini juga membawa bakteri pembunuh kuman tersebut.

Tak hanya itu saja, sekelompok peneliti menemukan fakta bahwa larva lalat dapat menguraikan kotoran dan limbah biologis yang ada di muka bumi.

Subhanallah, memang Allah tidak membuat sesuatu di dunia ini dengan sia-sia. Maka sudah sepantasnya untuk kita sujud dan menyembah hanya kepadaNya. Sungguh sangat lemah diri ini di hadapanNya yang Maha Kuasa. Dzat yang mampu menciptakan seekor lalat dengan segala kemanfaatannya.

Wallahu A’lam



Kamis, 17 Agustus 2017

Dirgahayu Republik Indonesia Ke-72 tahun 2017

 

Sudah merdeka kah kita dan semua rakyat negeri ini sekarang?
 

 

Sabtu, 24 Juni 2017

Saya Ryan Riyanto admin Blog http://aspal-putih.blogspot.com
Mengucapkan :

"Taqobbalallahu minna wa minkum siyamana wa siamakum, wataqobbal ya karim, ja'alnallahu,
 minal aidin wal faizin"

"Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438H"
Mohon Maaf Lahir Dan Batin"

Untuk semua sahabat, yang jauh maupun yang dekat, yang ada di Indonesia maupun dari manca negara, pengunjung setia blog saya, maupun pengunjung baru dari seluruh dunia.

 

Follow by Email

Blog Archive

Site Info

Total Kunjungan Ke Blog Ini

Entri Populer